Monday, October 18

manusia yg beriman ialah mereka yg aware ada dosa pahala at all times. selalu manusia itu berada dalam state yg tidak beriman, bila dosa itu mereka tak sedari, bila dosa itu mereka langgani. oh 'manusia' itu memang melampau ya Allah, terlampau melampau! air matanya kering seperti kering kontang tanah gersang. tak pernah sedikit mengalirkan air mata taubat depanMu. 

ya Allah, 'manusia' itulah aku!

rihammahsih

Wednesday, October 13

Kembara



hidup ini, satu kembara
jalannya luas, hamparannya tidak terbatas
letak kakinya, tetap sama
puncak kasihnya, manusia damba
dalam kehingaran, manusia itu sunyi
dalam keramaian, manusia itu sendiri
satu persatu, tumbang menyembahmu
menanti tika masa, kekalutan mengisi jiwa
oh teringat ketika, bayu hidayahmu menyapa
aku alpa lena, dalam keriangan dunia,
sementara.

Rihammahsih

Thursday, September 30

tika kelilingmu gelap gelita, kamu bersimpuh di hadapanNya. mengadu rasa, mengaku dosa. harapanmu agar bersih dari noda, suci dari dosa. bagai bintang menemani malam, kau bercahaya. embun pagi menanti dhuha menjadi tanda. kesaksian padaNya tanpa dusta nista. terus berpanjangan ke pintu syurga.

 Rihammahsih

Ketenangan

Ketenangan itu ada dalam setiap perkara yang kita damba. Mereka yang suka bersosial, bila bersosial akan tenang. Kita yang suka bercinta, rasa bahagia bila bercinta. Lelaki yang gila harta, pasti akan menjumpai ketenangan dalam harta-hartanya itu. Wanita yang damba the perfect look, pasti akan merasai kepuasan bila mendapat pujian. Tetapi, semuanya itu hanyalah sekelumit cuma dari ketenangan yang sebenar. Kerana semua orang yang suka bersosial, yang suka bercinta, gila harta, ingin kelihatan cantik, kamu dan juga aku, semuanya hakikatnya adalah manusia cuma, manusia itu ultimately bukanlah mencari rakan sosial, pasangannya, harta benda, kecantikan tetapi semuanya itu jalan untuk mendapatkan ketenangan yang kecil.

Fitrah penciptaan manusia ialah mereka dicipta Raja sekelian alam ini dan pastinya berbillion-billion manusia ini mempunyai satu ciri yang sama iaitu lahirnya mereka adalah dalam fitrah, suci daripada anasir2 luar. Dambaan manusia pada fitrahnya hanyalah Allah dan ketenangan manusia itu hanyalah lahir pabila dia mendekati Allah.

Allah berfirman, ala bidzikrillahi tatmainnal qulub. Ketahuilah, hanya dengan mengingati Allah, hati itu akan tenang.

Allah dengan Maha Pemurah dan Maha Penyayangnya memberi kita Islam, walaupun sebagai Pencipta, hakNya untuk memberi atau mengarah kita melakukan sesuatu yang tidak membawa manfaat pada kita walau sedikitpun. Dengan Islam itu, kita akan beroleh ketenangan. Islam tidak dapat tidak mampu ditranslate kepada satu perkataan yang membawa erti yang sama, namun Islam itu mungkin boleh dimaksudkan seperti ini:

One that surrender and submit to Allah with great obedience and sincerity, then only he'll gain peace in his heart.

Surrender means menyerahkan segalanya hanya pada Allah, kerana Allah sebagai Pencipta layak disembah dan dipatuh, bukanlah manusia lain atau nafsu sendiri.
Submit maknanya kita menyerah diri untuk mengikut ajaran Allah iaitu Al-Quran dan as-Sunnah dengan obedience, taat dengan segala arahan dan perintahNya serta rasul utusanNya.
Sincerity, keikhlasan itu tidak dipaksa. Kita hanya boleh mengajak, menasihati, dan membimbing tapi segalanya terletak atas dirimu sendiri, untuk mendengar atau tidak, untuk melakukannya atau tidak. Ikhlas bermakna, segalanya dilakukan hanya untuk Allah, bukan untuk kepentingan duniawi.
Lastly, manusia itu akan merasai ketenangan yang teramat hebat. Rasulullah menyebut org mu'min ini sebagai 'ajib, maksudnya amazing, dan seangkatan dengannya kerana datang badai datang ribut, mereka akan berkata alhamdulillah 'ala kulli hal, segala puji pada Allah atas segala perkara.

Jika ketenangan itu yang kau cari wahai manusia, carilah ia dalam Pencipta kerana disitulah ketenangan di dunia dan selepas matimu.
 
Rihammahsih.

Sunday, August 29

Live Curious

Everything Deserves A Why

If you are you breathe. If you breathe you talk.
If you talk you ask. If you ask you think.
If you think you search. If you search you experience.
If you experience you learn. If you learn you grow.
If you grow you wish. If you wish you find.
And if you find you doubt. If you doubt you question.
If you question you understand and if you understand you know.
If you know you want to know more. If you want to know more you are alive.

- Live Curious. National Geographic.

Live Curious. The Barat people are calling you o Muslims. Everyone in this world is gasping for sekelumit kebenaran: Hakikat kehidupan ini.

It's inspiring to see the beautiful videos made by Nat Geo, inspiring people to be curious about this world we live in. We, Muslims do know the truth; this world we live in does not last forever.


The World Is Just Awesome

The World Is Just.... Awesome

(Dialogue) Astronaut 1: It never gets old, huh?  
Astronaut 2: Nope.  
Astronaut 1: It kinda makes you want to...
Astronaut 2: Break into a song?  
Astronaut 1: Yep. 

I love the mountains, I love the clear blue skies
I love big bridges, I love when great whites fly
I love the whole world
And all its sights and sounds

Boom de yada, boom de yada
Boom de yada, boom de yada

I love the oceans, I love real dirty things
I love to go fast, I love Egyptian kings
I love the whole world
And all its craziness

Boom de yada, boom de yada
Boom de yada, boom de yada

I love tornadoes, I love arachnids
I love hot magma, I love the giant squids
I love the whole world
It’s such a brilliant place…

Boom de yada, boom de yada
Boom de yada, boom de yada

- The World Is Just...Awesome. Discovery Channel.

You and I, as long as we are Muslims, we carry the duty to convey the message that would save one's life in the life in hereafter.

Let me be frank, its either heaven or hell. And the destiny depends on ones ownself. People out there are curious and at the same time are lost in the worldly life, not knowing where we came from, why we live and where do we go from here.

You and I, as long as we are Muslims, we carry the burden that our Prophet Muhammad (PBUH) once carried before.

Let me be frank, every disaster/bad events that occur in our daily life; be it flooding, killings, war, crimes, buang anak, corruption, kezaliman, everything happens due to our own dirty hands, let our life embraced by Islam, the world will be at peace I am very sure and I have the evidence.

"And We have not sent you but as mercy for the worlds." (21:107) Muhammad (PBUH) brought us Islam, thus, Islam is the ONLY key to mercy for the worlds, no other alternatives are there. For years and years, mankind has been searching for a perfect system of life, Communism, Capitalism, Sosialism, be it whatever that's astray from Islam, it will end up with nothing but disaster. Millions of lives has been sacrificed, dignities were thrown out of the window, undang2 yang tak boleh menyelesaikan masalah, solutions after solutions came up but nothing will works except it was done in the name of Allah.

The best example was from Muhammad (PBUH) himself. The history speaks itself. The world was a doomed place until Islam came.

Just like Nat Geo's tag: Live Curious,

Go and look at why and how the world are like "telur di hujung tanduk" or "nyawa-nyawa ikan" nowadays.
Go and search for yourself what inspired Western Civilisation that we follow every of their footsteps today.
Go and read how the world was at peace when the world was under the Baghdad helm in Abbasid Caliphate.
Go and learn why it took only 8,000 Muslims to conquer Egypt against 1,000,000 soldiers in under 4 months.
Go and find out what is really the aim of our life and answers for the wheres and whyare we here.


If you are you breathe. If you breathe you talk.
If you talk you ask. If you ask you think.
If you think you search. If you search you experience.
If you experience you learn. If you learn you grow.
If you grow you wish. If you wish you find.
And if you find you doubt. If you doubt you question.
If you question you understand and if you understand you know.
If you know you want to know more. If you want to know more you are alive.

If you are alive you will die. If you die you will be questioned.
If you are questioned you will need answer. If you need answer be curious.
If you are curious you will find. If you find you will know.
If you know you will need to do. If you do inshaAllah the world will be awesome.
When the world is awesome your afterlife inshaAllah will be awesome too.

Live Curious. Before its too late.

Allah knows best. Wassalam.

Rihammahsih 280810

kenapa kita selalu kata apa yang kita tak perbuat?

ikhlas tu ibarat angin yang menerbangkan dedaun. daun terbang tapi tak nampak anginnya.

dalam pandangan orang yg tak berapa tinggi ilmu ini, kenapa kita selalu kata apa yang kita tak buat ialah kerana kita tak ikhlas, mungkin ada ujub sum'ah riak dalam amal itu. mungkin sekadar utk mendapat nama dan sokongan, mungkin sekadar utk mencari popularitas dan perhatian.

atau mungkin juga kerana kurang mujahadah dan usahanya.

tapi semuanya berbalik kepada keikhlasan perbuatan sehari-hari kita, adakah ianya ibadah pada Allah atau sekadar pemuas diri.

wallahua'alam

Ask me anything

Wednesday, June 23

Teman Daku Ke Pintu Syurga

Hidayah itu milik Allah jua. Dia akan bagi hidayah pada siapa2 yang Dia kehendaki, Dia akan sesatkan siapa2 yang Dia kehendaki. Dan kesesatan itu semestinya berpunca dari diri mereka sendiri kerana Allah tidak berlaku kejam atas hambaNya. Dan Dia boleh tarik nikmat hidayah itu bila2 masa yang Dia kehendaki dari kalangan orang2 beriman yang melupaiNya. Sungguh Allah bisa melupai siapa yang lupa padaNya. Namun pintu taubat itu masih luas terbuka.

Riham Mahsih

 

"Sesungguhnya orang-orang yang mengutamakan keuntungan dunia yang sedikit dengan menolak janji Allah dan mencabuli sumpah mereka, mereka tidak akan mendapat bahagian yang baik pada hari akhirat dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan membersihkan mereka (dari dosa) dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya." 

(Al-Imran:77)


Temankan daku ke pintu syurga...

 

 

 

 

Tuesday, June 22

Penubuhan IKRAM

extracted from www.ikram.org.my


KUALA LUMPUR - Di hadapan lebih 5,000 orang yang terdiri daripada ahli, tetamu khas, petugas media serta para pemerhati dari dalam dan luar negara, sebuah gerakan Islam, Pertubuhan Ikram Malaysia (IKRAM) telah dilancarkan pagi tadi. Majlis bersejarah tersebut berlangsung di Malaysia International Exhibition and Convention Centre, Seri Kembangan dekat sini.

Sungguhpun IKRAM nama baharu dalam dunia gerakan Islam di negara ini, ia bukanlah pertubuhan (NGO) yang baru hendak bertatih. IKRAM lahir hasil gabungan lima NGO yang selama ini bergerak berdasarkan pengkhususan masing-masing. NGO terbabit, Medical Interest Group Sdn Bhd (MIGSB), Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM), Pendidikan SRI-SMI Berhad (MUSLEH) dan Persatuan Islam Lepasan Institusi Pengajian Tinggi Australasia (AUSIS). Aqsa Syarif Berhad yang ditubuhkan Februari lalu menjadi NGO kelima yang bernaung di bawah IKRAM.

Setakat hari pelancarannya sahaja, IKRAM telah mempunyai 69 cawangan daerah dan 14 cawangan negeri di seluruh negara, manakala bilangan ahli-ahlinya sudah menjangkau 3500 orang. Jumlah ini dijangka akan terus meningkat dari semasa ke semasa. Pelancaran IKRAM telah disempurnakan oleh Presidennya, Dr Mohd Parid Syeikh Ahmad.

Dalam sidang media yang diadakan seusai pelancaran tersebut, Dr Parid menjelaskan IKRAM adalah sebuah NGO Islam yang komprehensif dan tidak memberikan fokus kepada bidang-bidang tertentu sahaja kerana dakwah adalah hak semua orang.

Bingkisan Islam yang hendak disampaikan oleh IKRAM adalah untuk semua manusia tanpa mengira agamanya agar lebih ramai yang dapat menerima kebaikan Islam dan sujud kepada Pencipta alam.

"Walaupun begitu, kita tetap berpegang kepada konsep bahawa tidak ada paksaan dalam beragama. Mereka yang belum bersedia menganut Islam tiada halangan untuk berdialog dan bekerjasama dengan kita dalam bidang-bidang tertentu," katanya.

Antara matlamat IKRAM yang disebut dalam perlembagaannya adalah menyebarkan Islam melalui dakwah, meninggikan taraf sosio-ekonomi umat Islam, memupuk keadilan masyarakat dan kesejahteraan sosial dan menegakkan syariat Islam secara praktikal. Selain yang demikian, IKRAM bersedia mengadakan kerjasama dengan mana-mana pihak dalam memajukan kepentingan umat Islam, sesuai dengan moto IKRAM, 'Ukhuwah Teras Kegemilangan'.

IKRAM menyatukan dalam satu organisasi kerja-kerja dakwah yang telah diusahakan oleh ahli-ahlinya di bawah pelbagai nama. Dengan tertubuhnya IKRAM, kegiatan-kegiatan seperti dakwah kepada yang belum Islam, pendidikan, wanita, remaja, belia, kebajikan, bantuan kemanusiaan, hak asasi manusia dan urus tadbir yang baik (good governance) akan digabung (consolidate) dan diperteguh.

Turut hadir dalam sidang media tersebut ialah Timbalan Presiden, Prof Dr Mohamed Hatta Shaharom, Setiausaha Agung, Haji Zaid Kamaruddin dan Ketua Wanita, Ustazah Maznah Daud. Kebanyakan media utama negara termasuk daripada akhbar berbahasa Cina turut hadir membuat liputan majlis pelancaran dan sidang media IKRAM itu.

Menjawab satu soalan, Dr Parid menerangkan bahawa IKRAM berusaha membawa konsep dakwah yang dapat diterima oleh semua pihak demi mewujudkan kefahaman serta amalan hidup yang selari dengan tuntutan massa.

"Yang penting, ia mestilah tidak terkeluar daripada landasan Islam. Kita mesti yakin Islam itu baik bukan sahaja untuk orang Islam tetapi juga untuk yang belum Islam," ujar lulusan Doktor Falsafah dalam bidang Fiqh dan Usul Universiti Jordan, Amman ini.

Pelancaran IKRAM hari ini sekali gus melancarkan lagu rasmi pertubuhan itu yang menarik dan bersemangat. Lagu berjudul 'IKRAM' tersebut ditulis oleh Prof Dr Hatta sendiri manakala lagu dan vokalnya disampaikan oleh kumpulan SaffOne.

Sesi kedua majlis diserikan dengan Tazkirah Perdana oleh Ahli Lembaga Timbangtara IKRAM, Ustaz Alias Othman berjudul 'Bekalan di Perjalanan' dan ucapan berapi-api oleh Ustaz Hasanuddin Yunus, Pengerusi Aqsa Syarif yang turut menyertai flotila bantuan kemanusiaan ke Gaza baru-baru ini.

Seorang pengunjung, Azhar Maluddin, 45, berkata, jumlah kehadiran yang begitu ramai pada hari ini memberi petanda yang amat baik.

"Pelancaran IKRAM yang dihadiri tidak kurang daripada 5,335 hari ini mampu memberi impak yang besar kepada ahli-ahli. Ia menunjukkan IKRAM boleh mendapatkan bantuan yang sewajarnya daripada ahli-ahlinya apabila diperlukan," katanya.

Sementara itu, gerai-gerai yang dibuka di lobi dewan, terutamanya yang menjual barangan berkaitan Palestin mendapat sambutan menggalakkan daripada para pengunjung.

Berita oleh: A Ralim M Yaseen

Tuesday, May 25

Mata siapa yang tidak pernah menangis

Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam
dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu
dan menyebarkan risalah bertajuk "Jalan-jalan Syurga" dan beberapa karya
Islamik yang lain.

Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar
seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat
dingin dan hujan mulai turun..

Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan
seraya berkata "Ayah! Saya dah bersedia"

Ayahnya terkejut dan berkata "Bersedia untuk apa?".. "Ayah bukankah ini
masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah"

"Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat"

"Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika
hujan turun"

Ayahnya menambah "Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca
sebegini"

Dengan merintih anaknya merayu "Benarkan saya pergi ayah?"

Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada
anaknya "Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!"

"Terima kasih Ayah" Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah
hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.

Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun
yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan
risalah itu kepada penghuninya.

Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah "Jalan-jalan Syurga" ada
pada tangannya. DIa berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih
ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari
siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.

Akhirnya dia ternampak satu rumah yang agak terperosok di jalan itu dan mula
mengatur langkah menghampiri rumah itu. Apabila sampai sahaja anak itu di
rumah itu, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar
dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun
sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang memegangnya daripada pergi,
mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil
keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.

Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an.
Mukanya suram dan sedih. "Nak, apa yang makcik boleh bantu?"

Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah malaikat yang turun dari langit.
"Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat
sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya
hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling
bertuah". Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.

"Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu" dalam nada yang lembut

Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam
memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya " Ada sesiapa nak
menyatakan sesuatu"

Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah
perempuan separuh umur itu. "Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini
yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk
pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim.

Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan
dalam dunia ini" Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.

"Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi
saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap
anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu
lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba
loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa
pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi
lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi".

"Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini
setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi
ke pintu"

"Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu.
Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat". "Makcik, maaf
saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat sayangkan
makcik dan sentiasa memelihara makcik" itulah kata-kata yang paling indah
yang saya dengar".

"Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu
dan terus baca risalah itu setiap muka surat . Akhirnya kerusi dan tali yang
hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal mereka.
Aku tak perlukan itu lagi".

"Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi
hamba kepada Tuhan yang satu ALLAH. Di belakang risalah terdapat alamat ini
dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat
kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada
selama-lamanya di dalam neraka"

Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang
berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!

Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya
yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.

Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah
yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang
sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.

Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah ALLAH kepada
makhlukNya yang penyayang

Panjangkanlah risalah ini. Ingat ALLAH sentiasa menyayangi dan memelihara
kamu!


Komentarku: Jalan-jalan Syurga itu jelasnya bidznillah(dgn izinNya) melalui Shahadatul Haq yg kita pelajari yok? Betapa ramainya di luar sana yg masih leka dan lalai. Betapa ramainya mereka di luar sana yg masih tidak tersedar akan penipuan duniaan ini. Betapa ramainya di luar sana yg masih tercari-cari nikmat yg kita kecapi kini. "Wailullil mukazzibin", "Fabiayyi ala irrobbikuma tukazziban" berulang2 kali di peringat oleh Tuhan pada kita. "Celakalah mereka yg mendustakan" , "Dan nikmat Tuhanmu yg mana yg kamu dustakan?" Nikmat Islam dan Iman yg kita kecapi kini, bukanlah murah harganya, bukanlah sekadar utk diri. Jelasnya untuk dikongsi dan diseberkan, kerna nikmat ini bisa diambil tiba-tiba oleh siapa2 yg tidak menghargainya untuk diganti oleh orang lain. Byk sekali diremind oleh Tuhan, jika kamu tak nak buat kerja ini, fine Aku gantikan dgn org yg lebih baik drpd kamu. Jatuhla serendah2nya mereka yg tahu tapi menyimpan kebenaran bagai bani Israel yg dilaknat Allah karena mendustakan ayat2nya itu.

Jelasnya, kita sudah sedari yok? Maka, teruslah pentarbiyahan ini demi kemaslahatan dirimu yg terutamanya, dan demi keluarga serta manusia sejagat, kerana kita ini ummatan wasato, umat pertengahan yg disatukan atas dasar akidah, bukan kerana minatnya bola, kariernya serupa, kerana kita membawa satu fikrah yg sama, menegak kalimah Shahadah di bumi bertuah ini.

Benarlah, ujian demi ujian akan dilontarkan pada manusia yg ingin diangkat Allah satu derajat ke derajat yg lain. Kerana itu, kamu bisa akan menghadapi ujian demi ujian, ujian Xbox, ujian habis exam, ujian masa lapang, ujian banyak wang, ujian ramai kawang perempuang, ujian nak tinggalkang jahiliyah2 yg masih bertapak di hati, semuanya untuk mengetest sejauh mana keimananmu terhadap Allah azza wajal, sejauh mana kamu akan diangkat rapat ke sisi Allah subhanahu wata'ala..

Jangan gentar, jangan gusar, kerana matelamat kita hanyalah Allahu rabbi warabbukum dan Allah bersama-sama mereka yg berjuang demi agamaNya. Lagipun bukankah ini yg kita mahu?? Melihat wajah Allah S.W.T. dan mendapat pangkat "Allah redha akan kamu, dan kamu redha akan Allah"?? Bersama Rasulullah S.A.W. di dalam syurga, mencium pipi halus Baginda, mengucapkan Salaaam kepada Baginda dan Baginda bertutur yang baik2 dengan kita?? Bukankah ini yang kita mahukan??

Karena kita takkan bisa, sekali-kali takkan bisa mampu melihat neraka JahannamNya, apatah lagi disiksa ditortur walau sedetik walau seminit di dalamnya. diikat dirantai dengan tali besi panas membara disula dengan besi tajam tembus hingga ke muka dilempar dilempang malaikat bengis hingga hancur muka dibakar dipanggang hangus diganti kulit semula dipotong dibelah dicarik-carik dimamah daging-daging tanpa belas kasihan haus haus, diberi minum air nanah dan darah yg likat serta menggelegak, busuk dan jijik menghancurkan mulut serta isi perut, diberi makan buah zaqqum berduri2 hingga merobek perut menghancur isi badan. Semuanya berulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulang ulangggggulangggggg kalii.. mungkin sejuta tahun, mungkin 1 billion tahun, mungkin selama-lamanya. .

ya Allah takkan pernah terbendung azabMu itu. ingaklah janji Allah itu bener pastinya. Maka dengan itu, jangan patahkan pedangmu, jangan buang perisai imanmu. Kerana perjalanan ini masih panjang. Allah itu Maha mengasihani dan penyayang bener pada hamba2Nya, takkan pernah dimungkiri janji2Nya pada mereka yg berada di jalan ini. Allah tidak pernah membebankan satu beban yg tidak mampu ditanggung oleh mana-mana makhlukNya semenjak awal ilal akhir. Maka yakinlah, dakwah ini kita mampu tanggung bersama-sama. Jarak jauhnya tidak pasti, janji syurgaNya pasti. Kerana kita cuma ada Satu Destinasi akhir, menuju Satu Cinta yg abadi.

Wallahua'alam.

Friday, May 14

Without You

Sami Yusuf
Without You

(a beautiful and heart-trembling song if one really listen to it)

Softly You called to me
Across the space between
Across eternity
Where love winds a path unseen

Out of the wilderness 
You beckoned my every step
I stumbled sometimes and yet
I never once looked back

‘Cos I would see
The man I know I used to be
How I was lost before You reached for me
No I don’t know
Where I would go
What I would do
Without You
Without You
Without You

Like a heart between beats
I would feel nothing you see
If You took Your Love from me
I don’t know what more would life mean

I’d use my final breath
To call out Your name and let
That breath upon the breeze
Rise like a kiss to Thee

So You might see
Just what Your love has meant to me
And what the cost of losing You would be
No I don’t know
Where I would go
What I would do
Without You
Without You
Without You

‘Cos I would see
The man I know I used to be
How I was lost before You reached for me
No I don’t know
Where I would go
What I would do
Without You
Without You
Without You

Tuesday, May 4

Salahkah aku ingin bersyukur?

Aku seorang hamba.

sering alpa terlupa, bukan maksum. 

selalu berdosa, namun mengejar maghfirah.

tidak sempurna, hanya sentiasa memperbaiki.

jauh dari alim, namun menjauhi kejahilan.

bukan berlagak warak, cuma mencari redhaNya. 

 

Kenapa? 

Kerana takut dipalu disiksa dalam kubur, lemas dalam peluh bila matahari sejengkal kepala berdiri bagai selamanya menunggu perhitungan juga nauzubillahiminzalik, gejolak marak api hitam pekat yang tiada mampu otak ini membayangkan siksa neraka yang tidak terperi sakitnya, dirantai diikat disuap makan buah berduri meluluh perut, haus... diberi minum air nanah bercampur darah menggelegak yang serta merta menggelegakkan otak, dibakar dipanggang sehingga luruh kulit dan daging lalu diganti baru seperti asal.. berulang-ulang. sampai bila?

sampai bila-bila.

bila-bila tu sampai bila?

bila-bila tu sampai bila-bila la..

tiada penghujung. tiada.

 

penghujung manusia cuma dua. 


samada diseksa diganti kulit yg hancur luluh perut serta isi dagingnya berulang-ulang-ulang-ulang kali,

atau

bersenang lenang di syurga menikmati kehidupan sebenar setelah pahit jerih penat lelah menghadapi hidup yg penuh cubaan dan godaan.


Aku sedar kekurangan, salahkah untuk berubah?

Aku takut padaNya, salahkah aku bertaubat?

Aku berhutang Islam ini padaNya, salahkah aku ingin bersyukur?

 

Salahkah aku ingin bersyukur?

Thursday, April 22

Merangkak menuju maghfirahMu

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَمَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ

Allahumma anta Rabbi la ilaha illa anta, Anta Khalaqtani wa ana abduka, wa ana 'ala ahdika wa wa'dika mastata'tu, A'udhu bika min Sharri ma sana'tu, abu'u Laka bini'matika 'alaiya, wa Abu Laka bidhanbi faghfirli innahu la yaghfiru adhdhunuba illa anta


(O Allah! You are my Lord! None has the right to be worshipped but You. You created me and I am Your slave, and I am faithful to my covenant and my promise as much as I can. I seek refuge with You from all the evil I have done. I acknowledge before You all the blessings You have bestowed upon me, and I confess to You all my sins. So I entreat You to forgive my sins, for nobody can forgive sins except You.)


Ya Allah, kaulah Tuhanku. Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau. Engkau menciptakanku dan akulah hambaMu. Aku berada dalam perjanjianMu serta setia padaMu, yang akan kulaksanakan dengan segala kemampuanku. Aku berlindung padaMu dari segala dosa yang telah aku lakukan. Aku mengakui nikmatMu yang Kau curahkan padaku, dan aku mengakui segala lautan dosaku. Maka ampunilah aku kerana tiadalah sesiapa pun yang mampu mengampunkan selain Engkau.


(dipetik drpd doa Ma'thurat)



Di setiap hela nafas, setiap degupan jantung, setiap gerak geri, setiap tutur kata, setiap lintasan hati, setiap pandangan mata, setiap bayangan fikiran, tidak pernah tidak, kita akan terlepas daripada melakukan dosa, walau sekecil-kecil zarah.


Ketika diri melakukan kebaikan, terkadang terasa 'ah, bagus aku buat ni, orang lain tak buat pun'. Ketika berkorban demi kebenaran, hati berkata 'hmm, aku sorang je la yang buat ni, thanks laa'.
Ketika terasa diri beriman, bermonolog diri 'Hisham, ko terbaik aaa, ko memang layak ke syurga'.
Ketika bersujud menangisi dosa, syaitan berbisik 'bagusla, Allah dah ampunkan dosa kau. ko tunggu laa.'


Sedangkan ketika melakukan kebaikan pun kita masih berdosa, sengaja hati busuk ini meng'up'kan diri sendiri sedangkan sebenarnya yang menjayakan sesuatu perkara itu ialah Allah.
Sedangkan ketika berkorban dalam berjuang pun masih berdosa, hati kotor ini mendesak diri bersimpati serta menyalahkan orang lain sedangkan sesuatu amalan itu sepatutnya untuk Allah semata.
Sedangkan ketika terasa diri beriman itu masih berdosa, tidak pernah layak seseorang itu untuk masuk ke syurga sedangkan Rasulullah bangun malam sehingga bengkak kaki ditanya 'Aisyah kenapa begitu ya Rasulullah bukankah engkau ini kekasih Allah? Jawab Baginda, salahkah untuk aku bersyukur?
Sedangkan ketika malam itu sayu mendengar tangisan hamba Allah yang membersihkan hatinya, syaitan itu masih menyerangnya dari depan belakang atas atau bawah, siang menjelma, syaitan muncul kembali mengekori tiap gerak geri mencari peluang mendosakan kita.


Dalam menulis blog di pagi hening ini, terasa diri ini, apakah blog ini untuk menarik perhatian manusia kepada diri, atau menyeru manusia kembali pada Tuhan?


Ya Allah, ampunkanlah aku serta keluargaku serta mereka2 yang menuju kepadaMu..


merangkak menuju maghfirahMu,
Hisham Mahir

Tuesday, April 20

Bayangkan....

Bayangkan masa kat Padang Mahsyar nanti kita tak ada penaung. Manusia yang ketika itu berbogel tak berpakaian, tak ada rasa sedikit pun even nak jeling dekat orang lain, apatah lagi nak pandang lama-lama. Masa kat dunia, yang bertudung pun kalau muka lawa sikit, kita rasa nak pandang, biar la dia berhijab labuh ke, masa kat akhirat tak terasa nak pandang pun sebab apa?

Sebab apa? Sebab kita takut. Cuba ingat balik, masa kita tengah tunggu result SPM or A-Level or even result Exam Uni ni kan, time tu la masa yang paling panjanggggggg sekali dalam hidup kita, rasa tak senang, nak tidur pun susah, terbayang-bayang sampai terbawak-bawak dalam mimpi. Takut nya dapat result yang teruk.

Apatah lagi dekat depan Allah di Padang Mahsyar nanti, tunggu betul Final Result kita. Exam kita yang berjalan sepanjang hidup ni, akan diumum resultnya pada hari tu lepas berpuluh ribu juta tahun tunggu dalam barisan tenggelam dalam peluh2 busuk akibat panasnya matahari sejengkal atas ubun kepala kita. Terseksa dan terus terseksa menanti result kita. Tak rasa takut?

Tak ada lah sesiapa pun dapat menaungi/menolong kita ketika itu. Kalau di dunia, kala kesempitan wang JPA/Mara lambat masukkan elaun, kita mampu meminta pinjam rakan/parents. Ketika di sana kita tak mampu, tak berdaya meminta tolong sesiapa pun. Hopeless. Helpless. Pernah kan korang terasa satu ketika dalam hidup korang, korang tak berdaya nak buat apa-apa pun.

Bayangkan rasa itu, dalam jangka masa berpuluh ribu juta tahun menunggu result kita. Tak tahu lulus ataupun fail. Lulus, gi la syurga, tak lulus, kena heret kena lempar masuk neraka lepas terseksa lama semasa tunggu result tu, lepas kena bantai dalam kubur. Tak mampu buat apa-apa kecuali mereka-mereka yang dinaungi Allah S.W.T.

Sapakah mereka?

RASULULLAH SAW bersabda yang maksudnya:

Sebilangan manusia yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari kiamat iaitu hari yang tidak ada sebarang naungan padanya selain daripada naungan Allah; di antaranya ialah:

Pemerintah yang adil,

pemuda yang hidupnya sentiasa dalam mengerjakan ibadah kepada Tuhannya (ubudiah),

orang yang hatinya sentiasa terikat dengan masjid,

dua orang yang berkasih sayang kerana Allah di mana kedua-duanya berkumpul dan berpisah untuk mendapat keredaan Allah,

orang yang dipujuk oleh perempuan yang kaya lagi rupawan untuk bersatu dengannya lalu ia menolak dengan berkata: Aku takut kepada Allah!,

orang yang bersedekah secara bersembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberi oleh tangan kanannya,

dan orang yang mengingat Allah dengan keadaan tidak ada dalam ingatannya perkara lain, lalu menitis air matanya kerana mengingatkan sifat Jalal dan sifat Jamal Allah.


(Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

Bagaimana kita nak capai ciri-ciri ini? Hanyalah melalui usrah dan tarbiyyah yang berpanjangan dan berkesan sehingga ke akhir hayat. Kenapa usrah dan tarbiyyah? Kerana cara inilah Rasulullah melahirkan para sahabat yang dijanjikan syurga, para syuhada', para solihin, para mukminin. Tanpa tarbiyyah yang penuh ranjau dan dugaan, tanpa jiddiyah kesungguhan yang istiqamah, tanpa keimanan yang sahih, tak mungkin insan-insan yang istimewa di hadapan Allah kerana ketaqwaan mereka ini, memiliki ciri-ciri yang disebut akan dinaungi Allah.

Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfa'at bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya Itulah keberuntungan yang paling besar".

Muhasabah, dan terus muhasabah.

Pesan ini pada diri. Pesan ini pada diri. Pesan ini pada diri.

Semoga Allah mengampunkan lautan dosa ini.

Friday, April 16

saifulislam.com : Solat Jenazah di Funeral Home

 “Kami mahu menjemput Imam untuk solat jenazah di Funeral Home!” kata pegawai polis tersebut.
 
Bingung.
 
Solat jenazah.
Di Funeral Home?
 
Saya kehairanan.
“Siapa yang meninggal dunia?” saya bertanya.
 
“Seorang kanak-kanak perempuan berusia lima tahun” jawab pegawai polis itu.
 
“Baiklah. Saya panggil beberapa orang lagi dan kita berangkat 10 minit lagi” saya bersetuju.
 
Tengah hari itu saya berjaya mengumpulkan kira-kira 7 orang  jemaah masjid. Kami bertolak ke Funeral Home itu dengan sebuah kereta limosin hitam yang disediakan oleh pihak gereja. Di sepanjang perjalanan, saya masih tidak jelas dengan majlis yang bakal kami hadiri.
 
Perjalanan ke Funeral Home yang terletak di pinggir Belfast Selatan itu tidak memakan masa yang panjang. Kelihatan di perkarangan bangunan, banyak kereta dan orang ramai yang berpakaian hitam.
 
Suasana diselubungi kesedihan.
Pegawai polis yang membawa kami, memperkenalkan saya kepada seorang wanita Irish. Beliau berusia dalam lingkungan akhir 20′an.
 
“Oh, inikah Imam tersebut?” tanya beliau.
“Ya. Perkenalkan, Mr. Hasrizal” kata pegawai polis itu kepada wanita tersebut.
“Oh, terima kasih Mr. Imam. Saya Jenny, ibu kepada Mary” beliau memperkenalkan diri kepada saya.
Saya perasan yang Jenny tidak menghulurkan tangan untuk bersalam. Bagus sekali.
“Maafkan saya. Saya menumpang sedih atas kematian anak puan. Bagaimana semua itu berlaku?” saya bertanya.
“Entahlah. Kami bangun pagi dan Mary sudah pun meninggal dunia di dalam tidurnya” kata Jenny.
Sungguh tragis. Seorang kanak-kanak berusia lima tahun yang sihat, tiba-tiba ditemui meninggal dunia di dalam tidurnya. Saya segera teringatkan Saiful Islam yang masih kecil di rumah. Sesungguhnya setiap hari anak kita berjaya bangun daripada tidurnya dan bernafas, ia adalah anugerah Allah buatnya dan buat kita. Setiap hari adalah survival. Terasa benar betapa fragile seorang bayi. Betapa perlunya ibu dan bapa memberikan kepadanya sebaik-baik penjagaan.
“Perkenalkan ini Mustafa, suami saya!” kata Jenny.
Saya menghulurkan tangan beriringan dengan senyuman.
Mustafa berpaling ke arah lain. Enggan bersalaman dengan saya.
Saya agak terkejut. Terkejut dengan penampilannya yang rugged dan beranting-anting. Terkejut kerana namanya Mustafa, seorang Muslim dari Algeria . Terkejut kerana dia enggan bersalaman dengan saya. Terkejut kerana isterinya yang Jenny itu pula yang mengusahakan kedatangan saya dan rombongan masjid untuk menyembahyangkan jenazah anak mereka, Mary.
“Maaf saya, Imam. Dia kesedihan” kata Jenny.
“Tak mengapa. Saya juga kalau berada di tempatnya, pasti sedih dan sukar untuk berkelakuan biasa” saya menjawab.
“Saya seorang Katholik. Tetapi saya mahu Mary disembahyangkan sebagai seorang Muslim. Saya yang menghubungi pihak polis meminta mereka mencari masjid dan Imam” jelas Jenny lagi.
Perlahan-lahan saya dan jemaah masjid melangkah masuk ke dewan. Saudara-mara mereka sudah memenuhi dewan. Sesungguhnya ia merupakan suatu pengalaman baru yang sungguh menguji keyakinan diri saya. Tidak pernah saya membayangkan boleh berada di dalam suasana seperti ini, suatu hari nanti.
Saya berdiri di sisi keranda.
Seorang anak kecil tidak seperti sekujur mayat.
Wajahnya ada senyuman.
Rambut dipintal cantik.
Baju gaun putih sungguh berseri.
Saya hampir terlupa, anak kecil yang ‘tidur’ itu telah tidur yang tidak akan menjengah pagi. Pergi tak kembali.
Sebak dada menahan mata yang semakin berkaca.
“Tidurlah sayang. Allah mengasihimu” saya berbisik perlahan.
Keranda kecil itu kami betulkan posisinya agar bertepatan dengan Kiblat. Cuba mencari ruang yang bersih daripada patung Jesus dan gambar-gambar yang tidak kena untuk berada di hadapan kami yang mahu mengangkat Takbir.
Saya, Jamal, As’ad, Ahmad dan beberapa orang lagi jemaah Masjid yang hadir mengerjakan solat jenazah untuk melunaskan hak anak kecil itu ke atas kami. Semoga anak itu berehat di alam sana . Saya terkilan kerana ayahnya, Mustafa, enggan menyertai solat jenazah kami ke atas anaknya yang ‘ malang ’ itu. Beliau hanya duduk bersama keluarga isterinya yang Katholik itu, memerhatikan kami bersolat.
Selesai solat didirikan, saya dikehendaki memberikan sepatah dua kata.
Aduh!
Apa yang mahu saya ucapkan? Di hadapan orang Irish itu? Katholik? Suasana sedih?
Saban hari, ada sahaja tugas baru yang tidak pernah berada di dalam jangkaan saya. Setiap hari adalah cabaran. Kemahuan dakwah dan khidmat tidak cukup. Saya perlu ada keberanian untuk melakukan apa yang perlu.
Just do it!
“Silakan Imam!” kata pengerusi majlis.
Tersentak saya daripada lamunan.
“Encik Mustafa, Puan Jenny, ahli keluarga dan rakan-rakan yang hadir. Hari ini adalah hari yang sedih buat semua. Sedih buat Encik Mustafa dan Puan Jenny, sedih untuk kita semua dan sedih untuk saya, seorang bapa kepada seorang anak kecil. Ia sedih untuk kita semua. Tetapi kesedihan itu mungkin boleh dikurangkan dengan berfikir tentang sesuatu yang gembira…” saya memulakan bicara.
Cuba untuk empati, dan memilih perkataan yang betul dalam keadaan emosi semua orang yang begitu rapuh.
“Di sisi Islam, setiap bayi yang lahir, tanpa mengira siapa bapa dan siapa ibunya, apa warna kulit dan di bumi mana kelahirannya, setiap bayi lahir suci. Penuh potensi untuk kehidupan. Mary meninggalkan kita ketika beliau belum mencapai usia baligh. Beliau suci dan dengan kesucian itu, beliau kita berada di tempat yang terbaik di sisi Tuhan. Dan jika kita biasa membayangkan bahawa anak-anak akan mengebumikan ibu bapa yang mati sakit tua, hakikatnya di dalam hidup ini boleh sahaja berlaku, ibu dan bapa yang menghantar anak pergi. Semua itu adalah cara Tuhan memberitahu kita, bahawa kita semua adalah milik-Nya” saya menyudahkan ucapan.
“Pada saat yang sedemikian itu kekuasaan memberi pertolongan hanya tertentu bagi Allah, Tuhan yang sebenar-benarnya; Dia lah sebaik-baik pemberi pahala, dan sebaik-baik pemberi kesudahan yang berbahagia (kepada hamba-hambaNya yang taat)” [al-Kahf 18: 44]
Ucapan ringkas saya itu mendapat tepukan yang positif daripada sekalian mereka yang hadir.
Saya menarik nafas lega. Dan dalam kelegaan itu, ungkapan sebenarnya adalah ALHAMDULILLAH.
“Bagaimana dengan pengebumian? Apakah kita mahu biarkan sahaja anak itu dikebumikan di tanah perkuburan Kristian?” bisik salah seorang ahli rombongan masjid yang hadir.
“Apakah salib yang bakal dipacak di atas keranda budak itu akan mengubah nasibnya di kubur? Semua itu bukan keutamaan kita. Berpeluang mengerjakan solat jenazahnya pun sudah merupakan nikmat yang besar buat kita. Jika pengebumian di kubur bukan Islam itu satu isu, serahkanlah ia kepada Encik Mustafa, bapanya. Apa yang penting, amalan si mati. Dan untuk almarhumah Mary, tiada apa yang perlu kita khuatirkan. Pengebumian untuk dia, bukan untuk kita!” saya menjawab.
Lelaki itu berpuas hati.
Beliau beredar meninggalkan dewan Funeral Home itu bersama kami.
Di dalam perjalanan pulang, fikiran saya berkecamuk. Antara sedih dan lega. Sedih memikirkan keadaan Mary. Tetapi lega Allah ‘mengambilnya’ semula pada usia semuda itu. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Mary akan membesar dengan baik jika ibunya yang Kristian Katholik itu bersungguh dengan Islam, manakala bapanya yang Muslim itu pula, entah di mana Islamnya.
BEBERAPA HARI SELEPAS ITU
Pengalaman menyembahyangkan jenazah seorang anak kecil yang ibunya Kristian Katholik dan bapanya Muslim, adalah sesuatu yang tidak pernah berada di dalam bayangan saya semasa menerima perlantikan sebagai Imam di Belfast Islamic Centre. Saya tahu di Belfast memang ada sejumlah Muslim yang mengahwini Irish Kristian dengan peruntukan Syariah dalam perkahwinan Kitabiyyah. Apa yang sering merunsingkan saya adalah pada memikirkan nasib anak-anak daripada perkahwinan itu.
“Assalamualaikum, Imam” tiba-tiba Ahmad memanggil saya.
“Wa ‘alaikum al-Salaam. Silakan!” saya menjawab salam.
“ Ada seorang pemuda bernama Jonathan. Beliau mahu bertemu dengan Imam” jelas Ahmad.
Saya mempersilakan Jonathan masuk ke pejabat. Wajahnya seperti pernah saya lihat tetapi tidak pasti di mana.
“Imam tidak ingat saya, barangkali. Saya hadir di majlis penghormatan terakhir ke atas baby Mary minggu lalu. Saya sepupunya” Jonathan memperkenalkan diri.
“Oh begitu. Maafkan saya. Bagaimana Jenny dan suaminya?” saya bertanya.
“Mereka berada di dalam keadaan yang baik. Terutamanya ibu saudara saya, Jenny. Dia memang seorang yang cekal” terang Jonathan.
“Apa hajat saudara datang ke masjid ini? Insya Allah saya cuba membantu” saya terus kepada urusan utama.
“Semasa kami mendapat tahu Mary meninggal dunia, semua orang marahkan Jenny. Beliau menangguh-nangguhka n Baptism ke atas Mary sehingga Mary mati. Kami semua bimbang dengan keadaan Mary yang tidak dibersihkan daripada original sin dan ini menyulitkannya nanti untuk berinteraksi dengan Divine Life. Tetapi ucapan Tuan Imam selepas sembahyang itu mengubah segalanya. Saya terkejut apabila tuan katakan bahawa, menurut Islam Mary mati dalam keadaan yang bersih!” cerita Jonathan.
“Benar. Bukankah itu juga yang sepatutnya?” saya menyoal lagi.
“Ya, kami semua mahu percaya bahawa Mary suci. Susah sekali mahu membayangkan seorang yang kecil, suci dan bersih seperti Mary, mati sebagai manusia berdosa. Tetapi Islam menepati perasaan sebenar kami” ujar Jonathan lagi.
 
Saya tergamam.
 
Ucapan ringkas dan spontan saya tempoh hari amat hambar dan terlalu biasa buat saya. Rupa-rupanya impak ucapan itu besar kepada yang mendengarnya.
“Saya mahu belajar tentang Islam” kata Jonathan.
 
Masya Allah… benarlah Islam itu fitrah.
 
Kematian Mary, adalah untuk ‘melahirkan semula’ Jonathan, seorang anak muda.
Jonathan, selamat datang ke agama fitrah!
 
Hebat sungguh perancangan- Mu!
 
 
ABU SAIF @ www.saifulislam. com
68000 AMPANG












saya: Subhanallah. Dalam sedar tak sedar, mereka (yakni orang2 bukan Islam) mencari-cari kebenaran dan kebaikan, namun mereka tidak pernah jumpa. Kita akan dipersoalkan oleh Allah di akhirat kelak atas ketidakjumpaan mereka kepada kebenaran kerana sebagai seorang Muslim, kita bertanggungjawab menyebarkan al-haq/kebenaran, iaitu Lailahaillallah wamuhammadarrasulullah.

"Cemana ni, depa cari kebenaran, hangpa dok buat apa? Awat tak sebaqkan apa yang hangpa ada tu. Cuba hangpa ada kat tempat depa, dalam kekafiran, hangpa rasa apa? Mati dalam kekafiran, masuk neghaka. Tak rasa besyukuq ka Allah bagi hangpa Islam? Tu pon tak gheti nak cukupkan solat, zakat apatah lagi. Ni nak habaq mai, Allah habaq dalam Quran Allah boleh gantikan hangpa dengan orang lain kalau Dia mau. Hang jaga."

wallahua'alam